1. Dear Guest, Selamat datang ke forum Cycling-Id.com. Silahkan membaca artikel New Members Guide untuk kenyamanan bersama.

Single Chainring, Omaigat

Discussion in 'Leo's Cycling Stories' started by red_cyclist, May 5, 2015.

  1. red_cyclist

    red_cyclist Rider Sruntulan

    WP_20150426_002.jpg

    Oke, sekarang yang namanya single chainring emang udah nggak asing lagi... Ga cuma di MTB, sekarang konsep single chainring mulai merambat ke road bike lewat SRAM Force 1. Back then, single chainring itu konsep yang mungkin cuma dikenal di cabang MTB ekstrim seperti downhill, freeride, dan all-mountain. Jadi, gimane ceritanye tau-tau sekarang kita punya jumlah sprocket yang lebih banyak tapi chainring yang lebih sedikit?

    Well, saya bukan ahli sejarah sepeda, tapi menurut saya ada tiga hal utama yang terlibat di awal mula meningkatnya tren single chainring; XC Race, SRAM XX, dan Julien Absalon.

    Julien Absalon, (5x XCO World Champion, 12x French National Champion, 2x Olympic Champion, 29x World Cup Winner. Or simply, a legend), adalah orang pertama yang saya tau sebagai pengguna single chainring di XC. Taun 2009, SRAM ngerilis groupset baru; SRAM XX yang pertama kali ngenalin konsep 2x10 di MTB. Absalon, yang sebelumnya pake setup 2x9 (instead of 3x9), termasuk orang pertama yang bisa nyoba SRAM XX dan di XCO World Championship taun itu, udah pake setup 1x10.

    [​IMG]


    Lambat laun, XC racers lainnya mulai ikutan. Burry Stander, Adam Craig, Christoph Sauser, dll, dan taun 2011, konfigurasi single chainring di XC race mulai jadi sesuatu yang umum. Alasannya? Ringan, simple (ga perlu shift chainring, cukup shift sprocket saja), dan memperkecil kemungkinan chaindrop. Ga cuma di XC race, tapi genre enduro/all-mountain single chainring juga semakin menjadi opsi utama.

    [​IMG]

    Tren single chainring itu akhirnya direspon oleh SRAM. Tahun 2012, muncul groupset SRAM XX1, 11 speed single chainring. Lucunya, kalo diliat di promotional video and stuff, (sepertinya) ditujukan untuk genre MTB yang lebih berat, seperti trail, all-mountain, dan enduro. Guess what, kemenangan pertamanya groupset ini diraih di XC race...

    [​IMG]

    Satu hal yang menarik, SRAM menawarkan ratio sprocket 10-42 dengan pilihan chainring 28t - 38t. SRAM juga berhasil mengeliminir kebutuhan chain guide, membuat groupset ini semakin ringan dan semakin dicintai XC racers....

    Menurut saya, SRAM XX1 inilah milestone terbesar dari perkembangan single chainring. Sejak itu, SRAM ngerilis beberapa groupset 1x11 lainnya yang lebih affordable (X01, X1, GX). Taun 2014 Shimano ngerilis XTR M9000, yang juga ngebawa konsep single chainring (di samping opsi double dan triple-nya).

    [​IMG]

    Perusahaan lain pun bergerak, OneUp Component menawarkan modifikasi sprocket 42t bagi yang mau pindah ke single chainring tapi tetep mau pake 10 speed dan mau punya ratio gear seperti XX1 atau XTR M9000

    [​IMG]

    Direct mount chainring ikutan muncul, memperbanyak pilihan ratio chainring (in SRAM case, 26t - 40t) dan semakin ringan.

    [​IMG]


    Dan terakhir, sepertinya tinggal tunggu waktu sampai akhirnya single chainring menjadi sesuatu yang tidak asing di dunia road bike

    [​IMG]

    -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

    Okay, that's the industry. What about me?

    Well, saya mengkategorikan diri saya sebagai early adopter dari tren single chainring. Dimulai dari taun 2011, waktu itu berawal dari hibahan chainring Shimano SLX double (36t-22t) yang dilepas chainring 22t-nya. Konfigurasinya masih 1x9 Shimano Deore, groupset 10 speed masih tergolong agak mahal waktu itu....

    Beberapa kali, saya sempet ngerasa "this is hopeless", bener-bener nguras tenaga, bikin kaki panas, dan ujung-ujungnya tuntun sepeda. Akhirnya pasang lagi 22t. Butuh waktu untuk settle dengan single chainring, berkali-kali saya lepas-pasang-lepas-pasang chainring 22t, tapi akhirnya saya pasang mental, "kalo ngga bisa pake single chainring, kapan kuatnya?" Dan akhirnya chainring 22t dan shifter kiri pun dilepas for good. Dan ketika RD rusak, saya upgrade ke groupset 10 speed SRAM. Pada akhirnya, saya pake single chainring bukan karena saya kuat, tapi justru saya kuat karena saya pake single chainring.

    Konfigurasi 1x10 sampe sekarang masih saya pegang, walopun saya sekarang pake chainring 34t untuk mempermudah ngelewatin tanjakan super curam yang dikombinasikan dengan terrain yang sulit.

    Apakah single chainring itu sesuatu yang reasonable untuk semua orang dan harus dimiliki? Saya rasa nggak. Beberapa waktu lalu saya ngobrol sama salah satu mountain biker di Taman Kota 2, dia pake single chainring (36t kalo nggak salah, sprocket 11-36 normal) karena racun temen-temennya, dan dia justru ngga suka karena end up banyak nuntun sepeda. Dan dia bilang mungkin dia akan balik ke double chainring.

    Dulu, pindah ke single chainring hanya ukuran chainring yang jadi pilihan. Tapi sekarang, luar biasa. Kita bisa pilih groupset 10 speed atau 11 speed. Kalo bisa pake direct mount chainring, kita punya pilihan chainring dari yang super kecil kaya 26t sampe yang masif 40t. Buat yang masih pake 10 speed tapi ga mau keluar uang upgrade ke 11 speed tapi pengen rationya, bisa modifikasi sprocket pake cog 42t. Buat yang udah pake XTR 11 speed tapi pengen ratio yang lebih enteng lagi, ada cog OneUp Component 45t.

    Di sisi lain, double atau triple chainring bukanlah sesuatu yang akan menjadi obsolete. XTR Di2 punya teknologi synchro-shift yang dikhususkan untuk double atau triple. SRAM masih punya lineup produk 10 speed dengan pilihan double atau triple.

    Kalo Anda tanya saya apa manfaat yang paling saya suka dari single chainring, jawabannya simpel. It looks good.

    WP_20150504_17_59_48_Pro.jpg
     
    Last edited: May 5, 2015
  2. nocturn

    nocturn Well-Known Member

    Terima kasih untuk sharingnya..sungguh menginspirasi..
     
  3. red_cyclist

    red_cyclist Rider Sruntulan

    Menunggu om @nocturn pindah ke single chainring.......
     
  4. piak

    piak Active Member

    Om.. Nanya.. Kalo single chainring bukannya chainnya cross mulu?
    Chainnya umur pendekndonk jadinya?
    Newbie bertanya om
     
  5. red_cyclist

    red_cyclist Rider Sruntulan

    Yang penting penempatan chainringnya pas, jadi pas di sprocket 1 atw 10/11, rantainya ngga terlalu ketarik. Misalnya kalo di gambar di bawah ini, single chainring biasanya ditempatin di posisi chainring tengahnya triple crankset.

    [​IMG]

    Dari pengalaman saya sih, chainwear selama single chainring ngga ada perubahan yang signifikan. Kalopun lebih pendek, mungkin cenderung gara-gara lebih sering grinding di gear yang lebih berat dari double/triple crankset
     
  6. piak

    piak Active Member

    Oh ok.. Gotcha... Sebenarnya kalo nyari efisiensi ya emang single chain... Masalahnya dengkul yg ga nahan ahahahaha
     
  7. nocturn

    nocturn Well-Known Member

    Artikel yg menarik..


    Sent from my iPhone using Tapatalk
     
  8. Bayu Adhiwarsono

    Bayu Adhiwarsono Well-Known Member

    Prinsipnya sama dengan single chainring di seli alias folding bike kan, om? Pengalaman di seli, saya sering banget gak presisi pas shifting. Entah yang sproketnya miss, atau yg depan loncat. Atau karena "kasta" yang saya pakai kurang mumpuni?
     
  9. red_cyclist

    red_cyclist Rider Sruntulan

    Shifting ga presisi pasti problemnya di setelan RDnya om. Kalo masalah rantai masih suka loncat di depan bisa gara-gara chainline atw rantainya kependekan.
     
  10. Bayu Adhiwarsono

    Bayu Adhiwarsono Well-Known Member

    Ooooh...I see, om. Ntar saya cek lagi kalau gitu
     
  11. Fajar Apidana

    Fajar Apidana Member

    Saya pakai di road bike saya om
    chainring 44t
    sprocket 11-32t
    buat saya yg newbie utk endurance, bike to work, funbike udah cukup,
    main di avg 33-35 kebanyakan pakai 14t (sprocket 11,12,28 ama 32t jarang kepakai juga)

    Crank dicopot dua chainringnya diganti single, FD dilepas, kabel shifter kiri dilepas
    lumayan menghemat 300an gram, ga perlu setting FD, ga perlu shifting kiri
     
  12. Ferdi Hanafi

    Ferdi Hanafi Active Member

    Nimbrung om, kalo tnyata (nanti-nanti ketemu tanjakan super sadis) 32t masih kurang, bisa pake cassette MTB tetap pake RD punya RB tp ditambahin Roadlink.
    Saya pake chainring 44t sproket 11-40 (cassette MTB)
     
  13. Fajar Apidana

    Fajar Apidana Member

    roadlink masih mahal om..
    seharga RD jg..
    mungkin krn msh keluaran baru..
    lagian main RB kebanyakan di flat..jadi ya nantinya itu ya nanti nanti..sekalian nunggu roadlink udah terjangkau harganya atau ada versi murahnya..
     

Share This Page