1. Dear Guest, Selamat datang ke forum Cycling-Id.com. Silahkan membaca artikel New Members Guide untuk kenyamanan bersama.

Bar End, Perlu atau Tidak?

Discussion in 'MTB, Down Hill, Dirt Jump, dan BMX' started by bagusgowes, Jan 6, 2017.

  1. bagusgowes

    bagusgowes Well-Known Member

    maxresdefault (1).jpg

    Dari gaya hingga fungsionalitas, sepeda menjadi sangat personal sifatnya, dan lebih jauh lagi, set up-nya jauh lebih personal. Ada banyak kemungkinan pengaturan pada handle bar, stem, hand grip, posisi brake lever dan shifter. Seiring berlalunya waktu, beberapa komponen menjadi lebih familiar dan dianggap umum, seperti rise bar dan stem yang lebih pendek. Lalu, bagaimana nasibnya dengan bar end atau tanduk?

    Munculnya tren bar end

    Bar end muncul untuk mengatasi stem yang dirasa sedikit kurang panjang. Banyak produsen membuatnya dari bermacam-macam bahan, mulai dari aluminium, titanium hingga karbon. Sebagian besar memang berbentuk lurus, namun beberapa yang lain memiliki bentuk yang agak melengkung di bagian ujungnya, atau memiliki anatomi yang sesuai dengan telapak tangan saat menggenggam.

    Bar end adalah aksesoris yang wajib ada di sepeda gunung di era 80an hingga awal 90an, saat head angle yang normal adalah 71 derajat, flat bar dengan lebar 640 mm, dan masih menggunakan rem cantilever.

    Pesepeda yang pro dengan bar end berpendapat bahwa bar end memberikan keleluasaan bagi tangan untuk memilih posisi, serta sebagai cengkeraman tangan saat berada di tanjakan, sehingga dirasa akan bisa mengayuh lebih kuat, dengan mengoptimalkan kerja otot trisep, pundak dan latissimus dorsi di punggung. Meletakkan tangan di bar end juga akan sedikit memindah bobot tubuh sedikit ke bagian depan, dan akan memudahkan saat melewati tanjakan. Bahkan Shimano membuat remote shifter seri XTR-nya, yang memudahkan tangan bisa memindah posisi gigi belakang, meskipun tangan sedang menggenggam bar end.

    Hilangnya tren bar end

    Lalu waktu pun bergulir ke akhir tahun 90an. Internet sedang ada di masa bersemi, dan telepon genggam pun semakin memasyarakat, dan segala macam bidang teknologi pun semakin berkembang, tentu dengan investasi yang besar pula. Saat itu juga adalah saat para produsen sepeda sedang asyik-asyiknya menggodok tema full suspension dan semakin muncul pula tren yang hingga saat ini ada, salah satunya penggunaan rise bar. Dan bar end pun kehilangan masa jayanya.

    Pesepeda, bagi yang ingin, tentu masih bisa memasang bar end di ujung rise barnya, namun tren mountain bike yang masa kini juga menuntut estetika. Dan, kini sepeda gunung juga menggunakan handle bar yang lebih lebar. Memasang bar end di kedua ujung handle bar bisa jadi malah akan menyulitkan pergerakan, atau tersangkutke pohon, saat melewati lintasan yang rimbun.

    Gaya riding juga semakin beraneka rupa, dan banyak orang lebih tertantang untuk menaklukkan macam permukaan lintasan yang berbeda-beda. Gaya mengayuh sambil berdiri (karena teradaptasi dari gaya bersepeda balap) kini juga meluntur, karena sepeda gunung full suspension memberikan keleluasaan bagi pengendaranya tetap bisa mengayuh sambil duduk, meskipun tanjakannya terjal.

    Bagaimana pendapatmu?

    Jadi, bagaimana dengan bar end? Apakah kamu suka memiliki lebih banyak pilihan posisi bagi tangan? Atau hand grip adalah satu-satunya posisi bagi tangan yang paling tepat dan aman?

    Bagaimanapun juga, di toko-toko sepeda, saat ini masih sangat mudah dijumpai bar end terpampang di etalasenya.

    Sumber: http://goowes.co/2017/01/05/bar-end-perlu-atau-tidak/
     
  2. Jerichos

    Jerichos New Member

  3. 2pic

    2pic Active Member

    Selain di xc bar end mungkin masi dipakai di sepeda santai soalnya enak buat ganti posisi tangan..

    Dulu di sepeda santai lama, saat masi jaman suspensi stem, pakai bar end jg merk transx/rito..
     

Share This Page